
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyambut baik permintaan Presiden Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman, Rashad Al-Alimi, untuk membahas situasi dan solusi di Yaman Selatan. Pernyataan ini menunjukkan komitmen pihak berwenang untuk mencari jalan keluar yang adil dan berkelanjutan.
Dalam pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Arab Saudi tanggal 30 Desember 2025, disebutkan bahwa penyelesaian konflik di Yaman Selatan hanya dapat dicapai melalui dialog. Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya pendekatan politik yang inklusif dan komprehensif dalam menangani isu-isu yang terjadi di wilayah tersebut.
“Masalah Yaman Selatan adalah masalah yang adil dengan dimensi historis dan sosial. Satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah melalui dialog dalam kerangka solusi politik komprehensif di Yaman,” kata Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam keterangannya, dikutip pada Sabtu (3/1).
Arab Saudi menegaskan komitmennya untuk mendukung keamanan dan stabilitas Republik Yaman. Hal ini didasarkan pada hubungan erat antara kedua negara, serta kesadaran akan pentingnya menjaga perdamaian di kawasan. Pihak berwenang juga menyatakan bahwa mereka berupaya menyediakan lingkungan yang kondusif bagi dialog politik yang inklusif.
“Sejalan dengan itu, Arab Saudi mengajak seluruh faksi di Yaman Selatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam konferensi tersebut guna merumuskan visi bersama yang komprehensif dalam mencari solusi adil bagi isu selatan, sekaligus memenuhi aspirasi sah rakyat Yaman bagian selatan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.
Selama bertahun-tahun, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah mendukung faksi-faksi yang bersaing di Yaman. Arab Saudi lebih condong mendukung pemerintahan yang sah dan diakui dunia internasional. Namun, konflik yang terjadi akibat serangan Dewan Transisi Yaman Selatan (STC) membuat Riyadh marah dan memicu ketegangan di kawasan Teluk.
Kini, STC mengumumkan rencana referendum kemerdekaan, yang dilakukan di tengah konflik yang memanas di Hadramout dan Al-Mahrah. Perselisihan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab atas perebutan wilayah oleh STC semakin memperburuk situasi.
Yaman yang sempat terpisah menjadi utara dan selatan dari tahun 1967 hingga 1990 bisa saja kembali terpecah dalam dua tahun jika rencana kemerdekaan STC terwujud. Jika hal ini terjadi, negara baru tersebut akan dikenal sebagai “Arab Selatan”.
Menyikapi konflik di Hadramout, Indonesia menekankan pentingnya penyelesaian damai melalui dialog politik yang inklusif dan komprehensif di bawah koordinasi PBB. Indonesia juga menekankan pentingnya menghormati pemerintahan Yaman yang sah serta integritas teritorial negara tersebut.




